Kepada Lelaki Penghianat dan Wanita Perebut

Hai, kalian apa kabar? Oh iya, kalian si lelaki pengecut dan wanita perebut. Kalian si munafik. Sehatkah? Semoga kalian selalu sehat dan Allah masih mau melindungi kalian. Aku ingin bertanya? Bahagiakah kalian?

Aku berharap kalian selalu bahagia. Karena kini aku sangat bahagia. Bahagiaku saat ini adalah ketika aku ditinggalkan oleh dia yang dulu menjadi lelakiku yang baik dan kini menjadi lelakimu yang entahlah bagaimana dia saat ini.

Kalian tahu alasanku bahagia?

Pertama, karena dengan dia meninggalkanku aku bertemu dengan lelaki tampan yang baik hati dan soleh yang kini membuatku begitu mencintainya, bukan karena nafsu dan ego tapi karena Allah S.W.T. Abangku itu telah mengubah duniaku yang takut sepi menjadi berani. Dia telah mengubahku menjadi lebih baik dari aku yang dulu. Abangku itu adalah bahagiaku, segalanya bagiku.

Kedua, aku berterima kasih karena dia telah sudi meninggalkanku dan dengan begitu aku tak lagi membiayai hidupnya seperti dulu ketika aku masih bersama dengan lelakimu itu. Dan semoga dia tidak menjadi benalu untuk hidupmu ya, Wanita cantik.


Ketiga, aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepadanya karena bebanku kini berkurang satu. Beban yang bersarang di pundakku. Dan, lihatlah! Betapa gemuknya aku sekarang. Karena aku bahagia! Sangat teramat bahagia Allah telah memisahkan aku dengan lelakimu itu.

Dan kamu, ya kamu si lelaki pengecut yang dulu sangat aku cintai dan beberapa hari yang lalu sudah menghubungiku via BBM. Aku sudah memaafkanmu. Tapi entah kenapa, aku tak pernah bisa melupakan apa yang telah kamu perbuat kepadaku.

Caramu menatapku dengan penuh kebencian. Caramu berkata padaku dengan nadamu yang tinggi serta seluruh isi kebun binatang yang kau keluarkan. Caramu menyakitiku dengan dahsyat dan kamu masih menghadirkan dia di antara kita.

Tak terlintas sedikitpun di benakku bahwa kamu akan melakukannya dengan sadar. Aku tidak membencimu, tidak! Pun dengan keluargamu yang selalu menyudutkanku. Kalau aku membenci mereka, aku tidak akan menyapa dan bersalaman dengan mereka ketika beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan mereka di rumah saudaraku yang kini menjadi kakak iparmu.

Aku malah berterima kasih kepadamu, kepada mereka yang telah memojokkanmu untuk meninggalkanku karena saat ini aku telah menemukan bahagiaku. Ternyata bahagiaku bukan bersamamu. Bukan bersama keluargamu. Haha, aku sudah salah menduga.

Aku hanya tidak bisa melupakan semuanya. Itu saja.

Well, aku tetap mendoakan kebahagiaanmu dengan wanita itu kok. Tak perlu khawatir. Bukankah wanita perebut lebih cocok dengan lelaki penghianat? Bukankah karma itu ada dan berlaku untuk siapapun? Lalu, apa lagi yang harus aku risaukan? Tidak ada.

Aku berharap kamu dan wanitamu itu sekarang membaca tulisanku. Bukan untuk apa-apa, hanya untuk saling mengingatkan saja agar tidak terjadi lagi di antara hubungan kalian yang sepertinya sangat bahagia itu.

Namun, jika kalian tidak membacanya, aku yakin Allah SWT adalah seadil-adilnya Dzat yang tak pernah tidur.

Terima kasih. Dan semoga kalian bahagia. 
hippwe.com

Share this: